Muhammadiyah merupakan organisasi yang berdiri di Yogyakarta pada 18 November 1912, yang bertepatan dengan 8 Dzulhijjah 1330 Hijriyah. Sejak pendiriannya, Muhammadiyah berkembang pesat dari hanya di Pulau Jawa hingga menyebar ke seluruh penjuru Indonesia.

Pada tanggal 29 Mei 1925, Muhammadiyah pertama kali masuk ke Sumatera melalui Maninjau, dibawa oleh Abdul Karim Amrullah, yang lebih dikenal dengan nama Haji Rasul, ayah dari Buya HAMKA. Setelah itu, keberadaan Muhammadiyah mulai tersebar ke berbagai daerah lain di Sumatera seperti Padang Panjang pada tahun 1926, Simabur pada tahun 1927, Bukittinggi dan Payakumbuh pada tahun 1928, serta Kuraitaji dan Suliki pada tahun 1929, dan Padang pada tahun 1930.

Pendidikan menjadi salah satu fokus utama Muhammadiyah, seperti terlihat dari pengalaman Ahmad Syafii Maarif yang sempat menempuh pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Sumpur Kudus sebelum harus terputus selama periode 1947-1950. Kehadiran Muhammadiyah di Kabupaten Sijunjung tercatat sejak awal kemerdekaan Indonesia.

Kepemimpinan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sijunjung dimulai sejak tahun 1950. Basir Gani menjadi ketua pertama untuk periode 1950-1955, disusul oleh periode kedua di bawah kepemimpinan Jasarudin HS pada 1960-1965. Basir Gani kembali memimpin pada periode keempat dari tahun 1970 hingga 1975. Selanjutnya, M. Syuib memimpin untuk tiga periode berturut-turut dari tahun 1975 hingga 1990.

Periode selanjutnya dipimpin oleh berbagai individu seperti Drs. Zaidal Arifin dari tahun 1990 hingga 1995, Drs. Mukhlis M. Taher dari tahun 1995 hingga 2000, dan Drs. Akmal M. Taher dari tahun 2000 hingga 2005. Drs. Zafrul Zamzami, MM memimpin selama periode 2005-2010, disusul oleh Drs. H. Karsuli dari tahun 2010 hingga 2015. Terakhir, Drs. H. Sumardi, M.Pd memimpin dari tahun 2015 hingga 2020, dengan perpanjangan hingga Mei 2023.

Selain kepemimpinan, pembangunan infrastruktur juga menjadi fokus, seperti pembangunan dua kantor PDM di Sijunjung dan Kecamatan IV Nagari selama periode ke-10. Pada periode ke-8, didirikan Masjid Muhammadiyah Al-Furqan di Guguk Dadok, yang kemudian berganti nama menjadi Masjid Al-Furqan pada periode ke-11. Di periode ke-13, Muhammadiyah juga berhasil mengeluarkan sertifikat tanah di beberapa kecamatan yang kemudian menjadi lokasi berdirinya Gedung Dakwah Muhammadiyah - Ahmad Syafii Maarif (GDM-ASM) di Kabupaten Sijunjung.